Tak pernah terbayangkan sebelumnya kalau saya akan memiliki anak yang mengalami keterlambatan tumbuh kembang yaitu terlambat jalan dan bicara sampai usianya hampir 3 tahun. Selama ini saya tidak pernah menceritakan tentang adek dalam blog ini. Tapi ada beberapa teman yang request untuk menuliskannya. Baeklah,  mari kita mulai. Ceritanya pasti bakalan panjang,  jadi akan saya tulis dalam beberapa postingan. 

Awalnya, semua baik-baik saja. Si adek,  tumbuh seperti anak kebanyakan. BB naik dengan pesat,  fase demi fase,  miring,  tengkurap,  menegakkan kepala,  dll,  dilewati sesuai dengan usianya.

Adek yang awalnya berpipi gembul. 

Saya sebagai ibu,  ingin yang terbaik untuk si adek dengan memberikan full ASI dan tidak memberikan MP ASI terlalu dini seperti beberapa teman sebayanya. Usia 6 bulan, saya baru memperkenalkan MPASI kepada adek. Saking ingin memberikan yang terbaik,  saya sampai ikut grup MP ASI homemade untuk belajar lebih banyak tentang MP ASI. 

Tapi semangat saya mendadak ambyar karena si adek selalu menolak makanan apapun yang saya berikan untuknya. Bukan si adek yang menolak,  tapi tubuhnya yang tidak mau menerima. Jadi begitu si adek menelan makanan, selalu muntah-muntah sampai ASInya ikut dimuntahkan.  Ibarat si adek makan sesendok yang di keluarkan lebih dari semangkok. Selalu saja begitu, meskipun saya sudah mengganti berbagai menu MP ASI. Saya putus asa,  dan membiarkan si adek hanya minum ASI saja. 


"Ndak papa ga makan,  yang penting masih doyan ASI",  begitu komentar beberapa orang.


Tapi kenyataannya tak seperti yang orang katakan. Setiap anak mungkin berbeda tumbuh kembangnya. Kalau anak lain baik-baik saja meskipun hanya minum ASI atau susu formula saja, tidak begitu dengan si adek. Semakin hari BB si adek mulai naik turun, banyakan turunnya daripada naiknya. Sehingga kurva di buku KIA sudah mendekati warna kuning, karena pertumbuhannya tidak sesuai dengan usianya. Sulit di percaya,  kami orang tuanya seger-seger,  anaknya kecil. 

Selain itu, Adek yang tadinya sudah faham diajak komunikasi dan sudah bisa ngoceh-ngoceh ga jelas mendadak berubah jadi kayak bayi 3 bulanan lagi, diam ga mau ngoceh dan menirukan gerakan kakaknya lagi. 

Kejanggalan lainnya, sampai umur 1 tahun,  adek belum bisa duduk sendiri.  Jangankan duduk sendiri,  didudukkan saja adek masih ambruk.  Tapi anehnya, meskipun belum bisa duduk, si adek sudah bisa berdiri trantanan,  dari posisi merayap,  asal ada pegangan yang bisa deraih, dia bisa berdiri. Tapi ya hanya berdiri saja, belum bisa memindahkan kakinya.
Adek yang semakin tirus,  dan masih bersandar kalau duduk. 


Dari sini,  suami mulai curiga kalau si adek mengalami gangguan tumbuh kembang. Tapi saya masih belum bisa menerima kenyataan.  "Adek baik-baik saja. Mungkin memang belum waktunya",  begitu saya menguatkan hati. Mulai saat itu,  pertengkaran-pertengkaran kecil terjadi antara kami. Saya yang keukeh si adek baik-baik saja,  sedangkan suami yang curiga kalau si adek tidak dalam keadaan baik-baik saja. 

Saat adek umur 1 tahun itu, adek diare dan kami sempat ke Dokter anak ternama di Madiun Kota.  Mumpung ketemu dokter "Dok,  kenapa anak saya umur 1 tahun belum bisa duduk?. Makannya juga susah", tanya saya.  "Lha iya wong badannya kecil,  obati dulu diarenya baru tak kasih tahu cara agar anak mudah makan",  begitu jawab dokter yang tentu saja sangat tidak memuaskan. 

"Tak kasih tahu kuncinya agar anak mau makan ya. Disapih.  Nanti kalau sudah disapih, kesini lagi saya kasih tahu langkah selanjutnya",  lanjut dokter sambil menulis resep. Mendengar kata sapih,  saya langsung illfeell sama dokternya. Si adek baru umur 1 tahun harus disapih?  Apalagi si adek ga doyan susu formula. Lha terus mau makan apa?. Saya mengabaikan saran dokter,  dan lebih memilih beli vitamin penambah nafsu makan.

Setelah dari dokter,  minum vitamin,  perlahan-lahan adek mulai mau makan dan BBnya mulai naik.  Rupanya si adek tidak suka makanan yang lembek seperti bubur. Jadi sekalinya makan dia langsung makan nasi yang empuk,  dan paling suka sama ikan laut. 

Sampai akhirnya adek umur 14 bulan, dan  masih belum bisa duduk juga. Hati saya mulai luluh,  " Ya sudah,  ayo cari obat buat adek.  Mau kemana aku ikut",  kata saya pasrah.

Setelah 14 bulan baru menyadari ada gangguan tumbuh kembang anaknya itu boleh dibilang terlambat ya. Andai saya peka,  mewaspadai adanya gangguan tumbuh kembang sejak dini,  pasti semuanya akan lebih cepat diatasi. Tapi semua sudah terjadi,  waktu tak bisa diulang lagi. Yang bisa kami lakukan hanya mencoba ikhlas menerima rezeki ini sambil terus mengusahakan yang terbaik untuk mengejar ketertinggalannya.