"Ibuk...adik nais (nangis)"
"Lho, nopo kok nangis?"
"Ga oleh melu dolanan, Mbak Anggi" (ga boleh ikut main).
Langsung peluk, sambil terus mendengarkan celotehnya.

Untuk kesekian kalinya, Alfi menangis karena ndak boleh ikut main. Sebenarnya, saya sudah berusaha untuk memberi pengertian kepada Alfi, kalau temannya tidak hanya itu. Masih banyak temannya yang mau main sama Alfi. Tapi namanya anak kecil, tetap saja Alfi pingin main. Dan seperti biasa Alfi pasti nangis karena ndak boleh ikutan main atau ndak boleh pinjam mainannya. Untungnya, tidak sulit untuk menghentikan tangis Alfi. Cukup dibujuk sebentar dan diajak main ke tempat temannya yang lain, sudah selesai.



Kadang nyesek juga kalau lihat sendiri kejadiannya. Jangankan main bersama, melihat Alfi aja sinis seolah Alfi ini makhluk aneh dari luar angkasa. Tapi saya memakluminya.... anak itu memang dari keluarga berada dan orang tuanya sangat jarang bersosialisasi dengan tetangga. Jadi wajar kalau anaknya juga enggan bergaul dengan anak lain yang sebaya dengannya.

Tukar mobil-mobilan dan mainan sudah jadi kebiasaan mereka.

Sedangkan Alfi, sejak bayi sudah belajar bergaul dengan banyak orang. Saya juga selalu mengajari Alfi untuk menyapa orang, menjawab pertanyaan orang, dan juga berbagi makanan atau mainan dengan temannya. Memang tidak mudah mengajari sesuatu kepada anak sekecil Alfi. Kadang Alfi suka tutup mulut kalau disuruh menyapa orang, kadang juga ndak mau minjami temannya mainan.

Tapi saya tidak putus asa, saya yakin bisa itu karena terbiasa. Apalagi Alfi anak yang cerdas, apa yang dia lihat bisa dia tirukan. Dengan mengajarkan sesuatu yang baik-baik, maka yang terekam dalam otaknya juga yang baik-baik. Semoga kau jadi anak yang sholehah, berbakti kepada orang tua dan berguna untuk semua orang. Amin....