Ketika kami berencana membangun rumah, awalnya kami ingin menggunakan atap kayu. Kebetulan, kami sudah nyicil membeli kayu jati yang sudah dipotong dengan berbagai ukuran. Tapi kalau dihitung-hitung kekurangan kayunya sekitar 50% atau mungkin lebih. Itu berati, budget yang harus kami siapkan untuk membeli kayu masih sekian  puluh juta lagi.

Galau juga waktu itu, darimana kami akan mendapatkan uang segitu banyak? Sedangkan bahan-bahan yang lain juga masih kurang, belum lagi untuk tukang dan kuli. Ach...ngitungnya aja pusing, bikin rumah kok mahal amat yak.

Kebetulan ada teman suami yang menyarankan untuk menggunakan atap baja ringan. Setelah dihitung-hitung perkiraan dana yang dibutuhkan, kami langsung tergiur dengan harga yang ditawarkan, dan mulai mikir-mikir untuk pakai atap baja ringan saja. 


Ketika kami sudah mulai tergoda untuk memakai atap baja ringan, ada sebagian orang yang bilang, kalau baja ringan itu susah memperbaikinya, lama-lama bisa melengkung dan lain sebagainya yang bikin hati kami jadi galau dan mikir-mikir lagi, "mau pakai ga ya?". Apalagi di sekitar daerah kami baru ada satu orang yang pakai, itupun masih di campur dengan kayu. 

Akhirnya saya minta pertimbangan adek, yang kebetulan rumahnya juga menggunakan atap baja ringan. Si adek malah mendukung kami untuk menggunakan atap baja ringan juga. Ya sudah akhirnya kami manteb dengan pilihan kami yaitu pakai atap baja ringan.

Beberapa alasan kami memilih atap baja ringan adalah:

1. Harga lebih murah
Untuk kami yang memiliki budget pas-pasan, atap ini bisa menjadi pilihan karena harganya jauh lebih murah dibanding atap kayu. Untuk rumah kami yang ukuran 9mx10m dengan ukuran baja ringan 1mm habis +/- 20 juta sudah komplit tukangnya. Kalau pakai atap kayu? Mungkin ga cukup 50 juta. :)

Atap baja ringan

2. Kuat, Awet dan Anti Rayap
Mengingat kayu sekarang banyak yang disulap jadi nampak bagus padahal kwalitasnya belum tentu bagus, sehingga atap baja ringan bisa jadi pilihan. Karena baja ringan tidak mungkin di makan rayap ataupun rapuh di makan usia. Asalkan berat genteng dan ukuran baja ringan sesuai, insyaallah aman. 


Sebenarnya sempat trauma dengan kejadian ambruknya rumah adek gara-gara (mungkin) genteng terlalu berat atau kontruksinya yang kurang oke. Tapi kami yakin rumah kami akan kuat selamanya. Amin.

Atap baja ringan
3 meter dikasih 3 kuda-kuda biar lebih kuat

3. Hemat Waktu dan Biaya tukang.
Pakai atap baja ringan pengerjaannya lebih cepat dibanding atap kayu. Kemarin rumah kami hanya membutuhkan waktu seminggu saja sudah selesai, tinggal pasang genteng bagian kami. Padahal tukangnya hanya 3 orang, masih muda-muda, jadi kerjanya lebih cepat. Tapi agak mengeluh tangannya pegel-pegel, karena biasanya mereka mengerjakan baja ringan ukuran 0,7mili. Sedangkan di tempat saya yang 1 mili sehingga perlu tenaga ekstra untuk mengerjakannya.


atap baja ringan
Tukangnya masih muda, cekatan banget kerjanya

Itulah 3 alasan kami memilih atap baja ringan. Awalnya kami dianggap aneh oleh orang-orang, bikin rumah kok ndak pakai kayu. Maklum, meskipun di kota sudah banyak perumahan yang memakai atap baja ringan, tapi di kampung kami atap baja ringan masih menjadi sesuatu yang asing. 


Mereka bahkan saya dan suami tidak mengerti bagaimana cara memasangnya. Dan sempat bingung ketika tukangnya menyuruh menurunkan andang (bambu-bambu untuk pasang batu bata). "Kalau andang tidak ada, terus gimana cara naikin baja ringannya?". Ya begitulah pertanyaan yang bermunculan diantara kami.



Tapi setelah tahu bagaimana cara memasangnya, baru deh pada bilang "ohhhh jadi gitu ya caranya, kirain sama kaya atap kayu cara pasangnya"


Jadinya seperti ini

Semoga rumah baru kami menjadi syurga untuk keluarga kecil kami, lebih berkah, kuat, dan awet untuk selamanya. Amin....