Saat ini, saya masih tinggal bersama orang tua di kampung yang boleh dibilang sangat jauh dari kota. Rumah kami  paling ujung, di jalan buntu untuk mobil, dekat sungai, dan dekat rerumpunan bambu. Meskipun begitu, tapi bisa jadi tempat istirahat paling nyaman mengalahkan hotel bintang 5 lho.

Bagaimana tidak nyaman kalau yang terdengar setiap malam adalah nyanyian alam. Suara gemericik air dari sungai, pohon bambu yang saling bergesekan dan beberapa binatang yang saling bersahutan. Engkroooook....kriiiik kriiiik, teot teot, wuuuuuk, kira-kira seperti itu bunyinya. Perpaduan irama yang sangat aduhai untuk mengantarkan tidur kami bukan?.


Pantas saja ketika saya masih bekerja di Hong Kong, saya selalu merindukan rumah ini. Karena, di Hong Kong yang terdengar hanya bisingnya suara kendaraan yang hampir 24 jam. Padahal dulu saya mengeluh punya rumah di kampung banget. Tapi ketika jauh, ternyata saya merindukannya.

Rumah kami berantakan, tidak sebersih dan serapi rumah orang lain tapi tetap terasa nyaman buat kami. Selain kasur ada 2 tempat lain yang tak kalah menyenangkan di sudut rumah kami yaitu, teras samping rumah dan ruang keluarga sekaligus ruang tamu. Maklum rumah di kampung kalau tidak punya ruangan luas tidak akan puas.
Teras samping rumah kami
 Banyak yang bisa saya lakukan di teras yang ada  tangganya beberapa tingkat ini. Dari teras ini saya bisa melihat aliran sungai, pohon bambu yang bergoyang di terpa angin, Ayam yang mencari makan atau kejar-kejaran, Alfi yang main sepak bola, cabut uban suami dll.

Kalau malam, bisa menyaksikan langit yang bertaburan bintang dan bulan.  Kadang kalau Alfi sudah tidur, saya dan suami ngobrol apa saja di sini. Jadi semacam menikmati me time gitu dech, kalau berada di teras ini.
tarrykitty.com
Ruang multifungsi di rumah kami.
Kalau di ruangan ini, biasanya saya gegoleran sambil menatap kristik gambar ka'bah yang saya buat sendiri itu. Bukan tatapan biasa tapi tatapan yang mengandung arti dan harapan tentunya. "Suatu hari, saya harus bisa menginjakkan kaki disana". Selain itu, hampir setiap hari, Alfi minta diangkat sampai tangan mungilnya menyentuh ka'bahnya. Tak lupa saya panjatkan do'a untuknya agar suatu hari bisa kesana. Amin....
Tulisan ini diikutkan pada Giveaway For Food Photography Lover