Ini adalah sebuah acara Kompetisi Blogger ShopCoupons X MatahariMall. Yang diselenggarakan oleh ShopCoupons. voucher mataharimall dan hadiah disponsori oleh MatahariMall.

Sebagai seorang pedagang, saya merasa tidak ada yang spesial dengan #KisahTanggalTua saya. Mau tanggal muda atau tanggal tua perasaan sama saja. Karena setiap hari saya pegang uang, meskipun uang dagangan. Yang sewaktu-waktu bisa melayang ke tangan-tangan sales yang datang atau ke tangan grosir tempat saya kulakan dagangan. 

Kalau waktu masih jadi TKW di Hong Kong dulu, sering banget merasakan derita tanggal tua. Karena gajian hanya sebulan sekali, dan saya (sengaja) tidak mau memanfaatkan hari libur saya untuk jualan atau cari kerja part time agar mendapatkan uang tambahan, seperti teman-teman yang lain. Sebenarnya penghasilan dari kerja sampingan lumayan banyak, kadang malah melebihi gaji sebulan. Tapi saya tahu, selain yang tertulis di kontrak kerja, apa yang dilakukan TKW merupakan sebuah pelanggaran. Kalau ketahuan petugas imigrasi bisa kena denda dan masuk bui. Jadi lebih baik syukuri saja gaji yang ada, meskipun sering menderita di tanggal tua. 

Biasanya, setiap habis gajian saya langsung menyisihkan sebagian gaji untuk keluarga atau masuk rekening sendiri. Sisanya, untuk uang jajan, uang libur, bayar tagihan HP dan yang paling penting untuk kartu telpon. Kebetulan di kontrak kerja terakhir, saya menjalani Long Distance Marriage (LDM). Saya di Hong Kong, suami di Taiwan. Hidup tak hanya sebatas urusan perut tapi juga urusan rindu. Entah kenapa setelah menikah, mendengar suara istri menjadi suatu keharusan setiap harinya. Sehari saja tak mendengar suara istri bisa pusing pala barbie katanya suami. Memang ini sangat lebay tapi begitulah kenyataannya.  

Waktu itu komunikasi masih mengandalkan telpon, bukan internet. Dan telpon dari Taiwan ke Hong Kong itu mahal jadi saya yang harus ngalahi menelpon suami. Sehingga kartu telpon jadi semacam kebutuhan pokok untuk saya. Yang susah itu kalau ngobrolnya keasyikan dan tanpa sadar menghabiskan kartu $50. Tak jarang, uang jatah sebulan sudah menipis di minggu ke 3. Kalau sudah begitu, baru dech saya melakukan pengiritan asalkan bisa beli kartu telpon.

Kalau dompet sudah menipis begitu, hal yang saya lakukan setiap harinya adalah menutup mata saat lewat toko Indonesia. Karena apa? Setiap hari saya belanja ke pasar, dan saya selalu tergiur untuk mendekati tumpukan nasi bungkus ($15) atau nasi bungkus mika ($12) yang penampilannya sungguh menggugah selera. Sebenarnya saya sudah dapat jatah makan dari majikan, tapi saya suka sok-sokan beli makanan Indonesia yang harganya beberapa kali lipat dibanding roti tawar oles selai sendiri.
tarrykitty.com
Aneka menu Indonesia yang menggiurkan
Meskipun uang belanja diserahkan kepada saya dan tidak pernah di cek, tapi saya sungkan kalau harus ambil uang majikan. Daripada makanan yang saya makan tidak berkah dan tidak jadi daging, mendingan sarapan pakai roti oles selai saja toh. :)

Sedangkan untuk libur, saya lebih suka naik Tram atau Teng Teng yang waktu itu jauh dekat bayarnya hanya $2. Sangat murah dibanding dengan kendaraan lain yang mencapai $10 sekali jalan. Tapi kalau naik tram harus sabar, karena jalannya Tram kayak keong ngesot. Bagi saya tidak masalah, karena bisa melihat keindahan Hong Kong selama perjalanan.

Kalau libur ke 2 yang biasanya sudah mendekati tanggal tua, saya memilih duduk-duduk di lapangan Victoria Park, kumpul dengan teman yang suka masak atau teman yang lagi ulang tahun, biar dapat makan gratis. Atau setidaknya kumpul sama teman yang mengerti kalau saya lagi bokek. Jadi kalau tidak ada yang masak, kita cukup beli makanan yang dijual bebas oleh mbak-mbak TKW. Atau makan di KFC dan sejenisnya yang harganya lebih murah dibanding makanan Indonesia. Harganya rata-rata $20-30 sudah kenyang, BDD alias Bayar Dewe-Dewe.  
Victoria Park
Makan-makan di Victoria Park
Misalnya pingin jalan-jalan tapi tidak punya uang, saya memilih jalan kaki menyusuri suatu tempat. Apa tidak takut kesasar? Sering sich kesasar tapi tidak perlu khawatir, banyak papan petunjuk jalan kok. Kalaupun tidak menemukan jalan, cukup masuk stasiun Kereta bawah tanah di jamin bisa pulang ke tempat asal. 
Pernah saking bokeknya tapi pingin refreshing, seorang teman mengajak saya hyking ke The Peak, puncak tertinggi Hong Kong. Kebetulan jalurnya dekat daerah kami, jadi tidak perlu naik kendaraan apa-apa untuk memulai pendakian kami. Berangkat jalan kaki, bawa bekal sendiri, dan pulangnya baru naik bus. Lumayan, bisa irit beberapa puluh dollar. :)
tarrykitty.com
Hyking ke Puncak tertinggi Hong Kong "The Peak"
(Baca :Hyking Ke Puncak Tertinggi Hong Kong)

Kebiasaan lain yang sering saya lakukan saat tanggal tua adalah, sering mantengin promo di beberapa supermarket. Ada beberapa kebutuhan seperti sikat gigi, pasta gigi, pembalut dan beberapa lainnya, sengaja saya beli di supermarket karena jauh lebih murah dibanding toko Indonesia. 


Tapi waktu itu lihatnya promo di koran atau datang langsung ke tempatnya. Tidak seperti di mataharimall.com yang tinggal klak klik melalui gadget sudah bisa mendapatkan barang-barang kebutuhan yang lagi promo tanpa harus susah-susah keluar rumah.

Alasan saya beli sesuatu di supermarket, selain karena promo, juga karena bisa membayar pakai Octopus (kartu untuk naik kendaraan umum). Octopus ini bisa diisi ulang minimal $50 atau kelipatannya. Biasanya saya isi $100 setiap punya uang. Jadi kalau dompet sudah menipis, tinggal tut octopus di supermarket sudah bisa membayar barang belanjaan. Yang lebih menguntungkan pakai octopus bisa di hutang. Misalnya belanjaan $50, octopus isinya hanya $30 tetap bisa, tapi pengisian selanjutnya akan langsung di potong.
Octopus
Octopus
Jika berbagai usaha diatas sudah saya lakukan dan tetap tidak bisa menolong isi dompet saya, jalan terakhir yang saya tempuh adalah utang kartu telpon sama teman yang jualan kartu. Ya saat seperti itu yang saya butuhkan hanyalah kartu telpon, agar komunikasi dengan suami tetap lancar. Bayarnya kalau sudah gajian, bisa ditransfer atau ketemu saat libur. 

Itulah #KisahTanggalTua saya sebagai TKW di Hong Kong. Meskipun sekarang sebagai pedagang tidak merasakan derita tanggal tua, tapi tak ada salahnya mengikuti jejak Budi seperti yang ada di video di bawah ini:


#JadilahSepertiBudi