Saat ini, usia Alfi sudah 3 tahun 1 bulan 9 hari dan alhamdulillah belum punya adik lagi. Sebenarnya hampir semua teman seumuran Alfi sudah punya adik.  Beberapa diantaranya hamil lagi karena kesundulan meskipun sudah pakai alat kontrasepsi. Namanya rejeki tak akan kemana ya. :)

Saya sempat nanya-nanya ke beberapa ibu yang kesundulan tersebut, "bagaimana reaksi si kakak ketika punya adik lagi tanpa perencanaan?".  Jawabannya beragam, ada yang adiknya di cubitin, ada yang adiknya di uyel-uyel saking gemesnya, ada yang melarang ibunya menyusui adiknya, dan lain-lain. Intinya si kakak melakukan aksi protes atas kehadiran makhluk kecil yang menyita perhatian semua orang. Sehingga mau tidak mau si kakak harus diungsikan ke rumah nenek atau ke tempat saudara. *hal ini juga terjadi pada waktu saya kecil* 


Hal itulah yang membuat saya  mikir-mikir dulu sebelum kasih adik ke Alfi. Saya tidak ingin apa yang saya alami di masa lalu terulang kembali ke anak saya. Jadi sebelum kami memutuskan untuk melakukan program hamil lagi, si kakak harus benar-benar siap dulu. Baru kemudian mempersiapkan mental si ibu. Kalau soal finansial tidak terlalu saya fikirkan, karena saya yakin setiap anak punya rejekinya masing-masing asal orang tuanya mau berusaha. :).


Lalu bagaimana cara mengetahui si kakak sudah siap punya adik atau belum? Kalau saya, mencoba mengajak Alfi ngomongin tentang adik. "Alfi sudah besar ya, sudah ga mimik ASI lagi. Asinya buat adek bayi dalam perut ibuk ya?", atau "Alfi mau ga punya adek? Kayak Mas itu, kakak mbak itu?". Kalau jawabannya "Ga boleh, adeknya tak keplak (dipukul)", berati si kakak belum siap punya adek. Jadi keinginan nambah anak harus di tunda dulu.

Ada beberapa orang tua yang tidak memikirkan hal itu, seperti sales makanan ringan yang biasa datang ke toko saya. Si Mas sales punya anak 2, yang besar umur 2 tahun yang kecil baru lahir. Kehamilannya terjadi sesuai rencana, bukan karena kesundulan. "Apa ga kasihan ibunya dan kakaknya?", tanya saya ke Masnya itu. "Saya dan istri siap kok mbak, sekalian aja capeknya mumpung masih muda", jawabnya.

Mendengar  jawaban mas nya itu saya jadi tersindir. Saya dan suami saat ini boleh dibilang sudah tidak muda lagi. Tapi mau nambah anak aja pakai mikir beberapa kali, mikir begini dan mikir begitu. Memang setiap orang berbeda sich, semua punya alasan masing-masing, semua punya idealisme masing-masing. Jadi, jalani aja ndak perlu memaksa orang lain agar sejalan dengan pemikiran kita. Iya to? :).


Terus apa saja tanda-tanda balita sudah siap punya adik? Ini beberapa tanda menurut pengalaman saya :

1. Semangat kalau diajak ngomongin tentang adik.

Alfi yang sebelumnya marah-marah ketika diajak ngomongin adik, sekarang jadi lebih semangat. Ketika saya tanya, "Mau ga punya adik?", Alfi menjawab dengan semangat "Mau, mau mau". Kalau sudah begitu, dia akan berceloteh tentang adik cewek dan cowoknya. Adiknya diajak main sepak bola, adiknya digandeng kalau jalan, dll. "Hati-hati dek, nanti jatuh", kata Alfi yang bikin saya senyum-senyum sendiri.

2. Mulai belajar berbagi dengan calon adik.

Setiap melakukan apa saja, atau punya apa saja maunya dibagi sama adik. Termasuk kasih sayang bapak ibu nantinya juga akan dibagi sama adik. "Ini buat adek, bapak", kata Alfi. Nanti kalau di tanya, adiknya mana? "Di perut ibuk", jawabnya lagi. 
Mulai enjoy bermain dengan teman, atau tukar mainan. Biasanya egois, ndak mau berbagi.

3. Panggil aku kakak.

Panggil aku kakak, menurut saya juga merupakan sinyal kalau si Alfi sudah siap punya adik. Karena biasanya kami panggil Alfi dengan adek, tapi sekarang dia minta dipanggal Akak. Panggilan akak mungkin terispirasi dari filmnya Upin Upin yang memanggil Kak Ros dengan sebutan Akak.

Nah itulah 3 tanda balita siap punya adik menurut saya. Ada yang punya pendapat lain?