Lahir di era 80an itu membuat masa kecil saya terasa sangat bahagia. Kenapa saya bilang bahagia? Karena waktu itu saya dkk bisa mandi di sungai depan rumah saya tanpa takut gatal-gatal. Kalau tidak hujan airnya jernih dan kanan kiri sungai bersih, saking rajinnya pegawai pengairan. Di sungai itu kami bisa belajar berenang, loncat-loncatan dari atas sampai terdengar bunyi jelegur, layaknya bermain di waterboom. Teriakan kamipun terdengar begitu ramai. Sampai akhirnya orang paling galak di RT kami datang dengan teriakan yang tak kalah kerasnya "Hoi, pulang. Mandi suaranya kayak pasar". Kalau sudah begitu ditambah sedikit ancaman, kami akan segera pakai baju dan lari tunggang langgang.



Ya.... Waktu itu kami mandi disungai tanpa pakaian/pakai pakaian dalam aja. Cowok cewek jadi satu tapi tak ada yang berbuat macam-macam. Kami adalah sekelompok bocah lucu, lugu, yang  hatinya bersih dan belum terkontaminasi dengan hal-hal yang berbau pornografi atau pornoaksi.

Tapi sekarang, sungai sepertinya jadi tempat yang menyeramkan, tidak ada anak yang mandi di sungai lagi. Airnya kotor, rumput di kanan kiri tumbuh dengan lebatnya, dan sangat dangkal. Dulu kalau tidak bisa berenang bisa tenggelam. Tapi sekarang cuma selutut orang dewasa. Karena keadaan sungai seperti itu, banyak orang tua yang melarang anaknya main di sungai, eh dari dulu dilarang sich tapi dulu anaknya bandel. :).

Selain mandi di sungai, dulu kami juga bebas main lari-larian di jalan karena yang punya motor bisa dihitung dengan jari. Permainan masa kecil yang sering kami lakukan di jalan diantaranya gobak sodor, betengan, dan masih ada lagi tapi lupa namanya. Sedangkan sekarang, kalau mau main di jalan, sebentar main, sebentar minggir karena ada motor lewat.

Dulu, kami juga sangat kreatif, karena bisa menciptakan mainan sendiri tanpa harus merengek-rengek minta uang untuk beli mainan. Seperti membuat mobil-mobilan dari kulit jeruk bali atau sepet (kulit kelapa), membuat boneka pakai daun pisang+gagangnya, membuat aneka masakan dari debog (pohon pisang) dan masih banyak lagi.

Tapi diantara sekian banyak permainan, menurut saya yang paling seru adalah main petak umpet setelah ngaji di mushola. Permainan ini juga membuat kami rajin ke Mushola. Sehabis sholat maghrib, ngaji, kemudian main petak umpet sambil menunggu waktu isya'. Kadang dilanjut setelah sholat isya'. Kenapa saya bilang seru? Karena main petak umpet di malam hari itu sangat menguji nyali.

Apalagi jaman dulu lampu tak seterang dan sebanyak saat ini. Bagi mereka yang penakut, pasti tidak berani ngumpet jauh-jauh. Itu artinya, mereka akan cepat ditemukan. Kalau yang penakut jadi pencari, biasanya mereka tidak berani pergi jauh-jauh sehingga ada teman yang tidak bisa ditemukan dan akhirnya nyerah. Kalau saya? Ngikut mereka yang pemberani aja biar aman. :).

Kalau mengingat masa-masa itu rasanya bahagia sekali. Tapi saya sangat bersyukur tinggal di kampung. Karena saya masih bisa melihat anak-anak disini masih bermain seperti permainan masa kecil saya. Main kelereng, lompat tali, betengan, egrang, ingkling, dan masih banyak lagi.

 Ini saya lupa namanya, pokoknya 2 tim saling berlomba numpuk-numpuk pecahan genteng tapi jangan sampai kena timpuk bola. Kalau sampai kena timpuk harus istirahat ndak boleh main.

 Main egrang.

Memang sich tidak setiap hari, karena mereka harus ngaji sore atau les. Setiap ada waktu terutama hari minggu mereka pasti main. Tapi sebulan lagi, dua bulan lagi atau setahun lagi mungkin permainan itu akan mereka lupakan. Karena sekarang sudah mulai ada yang bawa gadget saat main. Anak-anak yang tadinya asyik main pun tergoda untuk mendekati si pemilik gadget. Entah apa yang mereka lihat, sepertinya lebih seru dari main kelereng. Bisa jadi lama-lama semua anak punya gadget sendiri, kecanduan dan akhirnya tidak mau main bersama lagi.

Ga usah ngomongin anak lain, keponakan saya yang kelas 1 SMP dan kelas 3 SD juga mulai kecanduan main game di HP. Setiap kumpul di rumah embah bukannya main bareng malah nunduk main HP. Nah adeknya yang kecil-kecil ikutan nimbrung juga. Ini yang kadang bikin Alfi bete dan ujung-ujungnya minta pulang. Karena Alfi lebih tertarik main kejar-kejaran atau main sepak bola daripada main gadget.  :).

Lomba lari :).

Kalau sudah begitu, saya suruh mereka bubar agar mengajak Alfi main. Percuma saja cucu kumpul kalau tetap sepi karena sibuk dengan HP masing-masing. Tapi kalau mereka lari- larian, meskipun hanya krucil 4 (yang SMP tetap ndak mau main) tapi heboh banget. Beruntung sekali rumah kami masih dikelilingi sawah. Jadi tenang membiarkan mereka lari-larian di jalan, paling yang lewat hanya orang yang pulang pergi ke sawah. Gadget memang penting, tapi sosialisasi dengan orang sekitar juga penting. Jadi harus seimbang. :).


Tulisan ini [tidak] diikutkan dalam GiveAway Permainan Masa Kecil yang diselenggarakan oleh Mama Calvin dan Bunda Salfa