Setahun lalu, keponakan saya melahirkan bayi kembar melalui operasi caesar. Karena beratnya kurang, bayinya harus menjalani perawatan intensif sehingga tidak bisa mendapatkan ASI langsung dari ibunya. Dan setelah bisa dibawa pulang, disarankan untuk memberi susu formula BBLR (Berat Badan Lahir Rendah). Mungkin karena tidak dilakukan IMD (Inisiasi Menyusui Dini), si kembar mengalami bingung puting dan lebih milih susu botol daripada minum ASI dari ibunya. Hanya sesekali saja mau minum ASI dari ibunya, dan minum ASI perah.

Beberapa usaha telah dilakukan, dan entah bagaimana ceritanya si kembar malah stop minum ASI dan full minum susu formula. Katanya setiap mau dikasih ASI nangis menjerit-jerit. Apalagi bayinya dua, yang satu nangis yang satunya pasti juga ikutan nangis. Nungguin ASIP mungkin sudah ga sabar, akhirnya orang tua menyerah dan susu formula jadi pilihan sampai sekarang anaknya umur satu tahun.



Sangat disayangkan sebenarnya, apalagi bapaknya tidak punya pekerjaan tetap, setiap kerja cuma cukup (kadang kurang) buat beli susu sama diapers. Melihat keadaan mereka, saya jadi ingat kalau dulu kami pernah berada di posisi mereka. Bedanya, secara ekonomi keluarga kami tidak ada masalah dan bayi kami cuma satu.

Dulu saya juga melahirkan secara caesar karena posisi bayi melintang. Setelah lahir, bayi saya langsung dibawa ke ruang bayi tanpa melakukan IMD. Selama perawatan di rumah sakit, saya berada di ruang terpisah dengan bayi saya.  Karena saya masih dalam pemulihan setelah operasi, perawat meminta persetujuan kami untuk memberi bayi saya susu formula. Entah kenapa waktu itu kami setuju aja,

Ketika semua peralatan medis sudah dilepas, saya segera pergi ke ruang bayi untuk melihat dan mencoba menyusui bayi saya. Saya tak menghiraukan rasa sakit yang amat sangat dari luka bekas operasi. Rasa sakit yang saya rasakan seakan sirna begitu saja setelah melihat bayi mungil yang ada dalam pelukan saya. Saat itu, ada bahagia yang bisa dirasakan, namun tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata.

Setiap ada kesempatan, saya mencoba menyusui tapi tidak pernah berhasil. Mungkin bayi saya mengalami bingung puting karena dari awal sudah di kasih dot. Dan sepertinya  dia sangat nyaman dalam pelukan saya sehingga setiap kali saya mencoba menyusui dia selalu tertidur. Padahal produksi ASI sudah mulai banyak, akhirnya saya perah untuk menghindari payudara bengkak.

Alfi umur 4 hari.

Setelah kami pulang ke rumah, si bayi mungil merah yang kami beri nama Alfi, masih susah minum ASI, Hanya sesekali saja mau, itupun harus cari waktu yang tepat. Kalau pas nangis di kasih ASI nangisnya malah semakin histeris. Semakin hari semakin susah, dan lebih memilih susu formula atau ASIP pakai dot. Saya benar-benar stres sampai-sampai ASI saya mampet dan susah untuk di perah. Saya putus asa dan mulai malas memerah karena hasilnya sangat sedikit.

Ditambah lagi, jahitan operasi keluar nanah. Akhirnya, susu formula jadi pilihan sebagai pengganti ASI. Yang lebih menyakitkan, Alfi seperti ndak mau sama saya. Ketika menangis, kalau saya yang menolong makin histeris tangisnya, dan langsung diam begitu mbah uti yang menggendongnya. Saya merasa jadi wanita yang tak sempurna dan tak berguna. Saya juga protes kepada Allah, kenapa diberi cobaan yang seolah tak ada habisnya. Betapa tidak bersyukurnya saya waktu itu, padahal nikmat yang diberikan Allah kepada keluarga kami jauh lebih banyak.

Tapi alhamdulillah, hanya 2 bulan saja mengalami drama tidak mau minum ASI , karena setelah dokter menyatakan Alfi Alergi Susu Formula, kami  berjuang mati-matian agar Alfi mau minum ASI. Berkat dukungan suami, orang tua dan keluarga yang lain akhirnya Alfi mau minum ASI juga. Ada rasa bangga dan bahagia ketika saya bisa menyusui Alfi sambil memeluk tubuh mungilnya. Sehingga, ASI yang tadinya mampet, pelan-pelan menjadi lancar kembali.

Memang, awalnya Alfi belum mau berhenti minum susu formula, tapi lama kelamaan semakin berkurang sampai akhirnya stop minum susu formula saat umur 6 bulan. Setelah minum ASI, Alfi yang tadinya lengket sama mbah utinya menjadi lengket sama saya. Ketika menangis, langsung diam ketika berada dalam pelukan sambil minum ASI. Dan saya bisa menikmati moment menyusui ini sampai Alfi umur 2 tahun 1 bulan 2 hari.

Sungguh ini merupakan berkah terindah bagi saya sebagai seorang ibu. Seandainya suatu hari nanti Allah memberi amanah lagi dan saya bisa melahirkan secara normal, tentu akan menjadi berkah yang jauh lebih indah lagi untuk saya.

Alfi 31 bulan, makin lincah, cerdas, dan banyak akal, tapi agak keras kepala. :)

Saya sempat bertanya kepada dokter "apakah nanti saya bisa melahirkan secara normal?". Dokter menjawab "bisa, asalkan jaraknya cukup. Minimal 2 tahun". Mulai saat itu, saya mensugesti diri saya kalau saya pasti bisa. Dan yang paling penting, saya harus cari dokter atau bidan yang pro persalinan normal dan pro ASI. Sehingga pengalaman yang dulu tidak terulang lagi. Dengan berusaha dan berdo'a sungguh-sungguh, saya yakin pasti bisa!!!