Pages

Tuesday, May 21, 2019

Rejeki Barokah Karena Zakat, Infak, Dan Shodakoh


Di pertemanan facebook saya ada beberapa teman yang kerja di luar negeri, curhat kena tipu teman atau saudara yang tadinya baik,  begitu dipinjami uang,  orangnya lalu menghilang.  


Bahkan ada satu teman yang sering sekali curhat kena tipu. Setiap kena tipu, si mbaknya ini selalu meng upload wajah si penipu lengkap dengan bukti transfer dan akun  Facebooknya. Mungkin embaknya sudah geregeten banget sama si penipu. Punjab uang kok malah kabur. Seperti kata pepatah "Di tulung malah menthung".

Membaca curhatan embak tersebut, saya jadi ingat, kalau saya juga pernah mengalami hal tersebut waktu masih kerja di Hong Kong. Hanya saja, dulu tahun 2003an saya belum kenal sosmed,  jadi kejengkelan saya hanya di tulis di buku diary saja. Tidak di sebar ke sosmed biar seluruh dunia tahu kalau kita habis kena tipu. 

Waktu kena tipu dulu rasanya geregetan banget,  merasa saya sudah paling baik,  paling bener,  dan paling segalanya kok masih kena tipu juga?  

Namun,  setelah saya menikah tahun 2008, saya baru mengerti kenapa saya sering kena tipu padahal saya tidak pernah menipu?  Rupanya ada kewajiban saya sebagai muslim yang saya lalaikan yaitu berzakat.

Saya lalai bahwa dari sebagian harta yang kita miliki ada hak orang lain. Karena kelalaian saya,  bukannya membuat saya banyak uang tapi malah tidak dapat apa-apa meskipun gaji saya banyak. 

Setelah menikah,  saya dan suami sama-sama kerja di luar negeri.  Suami membimbing saya untuk menyisihkan sebagian gaji untuk zakat setiap tahunnya serta untuk infak dan shodakoh. 

Kemudian apa yang terjadi?  Sedikit-sedikit saya mulai bisa menabung, dan berivestasi. Saya merasa hidup lebih bahagia.

Baca: Tips Menabung Ala Mantan TKI

Sampai sekarang,  saat kami sudah tidak kerja di luar negeri dan tidak punya gaji jutaan lagi rasanya rejeki lebih terlihat manfaatnya.  Salah satunya kami bisa membangun rumah. Mungkin ini yang namanya rejeki barokah ya.

Baca: Impianku Membangun Rumah Mewah (Mepet Sawah)

Kata orang sih,  "kalau ga kerja di luar negeri,  ga mungkin bisa bangun rumah". Tapi buktinya,  saya dan beberapa teman/tetangga bisa kok membangun rumah meskipun hanya mengandalkan hasil kerja di Indonesia. 

Tapi ya jangan disamakan dengan rumah mereka-mereka yang kerja di luar negeri, yang sekali berdiri rumah langsung rapi.  Kita mah selow,  3 tahun rumah berdiri, belum di poles temboknyapun tetap selow. (Sekarang proses pembuatan kamar mandi).

Baca:  1001 Cara Untuk Mencari Rejeki

Kalau dihitung secara matematika memang rasanya tidak mungkin,  tapi menurut matematikanya Allah tidak ada yang tidak mungkin.  Asalkan jangan lalai dengan kewajiban-kewajiban kita salah satunya zakat, infak dan shodakoh. 

No comments:

Post a Comment

Terima kasih atas kunjungannya.