Certa sebelumnya Melahirkan Caesar Lewat HPL 2 minggu

18 september 2017, Sekitar jam 8.30, perawat mendorong saya menuju ruang operasi. Begitu  keluar dari ruang bersalin, suami sudah menunggu di luar yang kemudian mengikuti saya menuju ruang operasi. Tak ada sepatah katapun yang keluar dari mulut kami, yang ada hanya tatapan mata penuh cinta, kekhawatiran, ketegangan dan entahlah....campur-campur pokoknya.

Suami hanya mengantarkan saya sampai pintu, sedangkan saya masuk ke ruangan yang di dalamnya semua laki-laki. Di ruangan ini saya diminta pindah ranjang lagi. Susah payah saya pindah, karena perut kenceng-kenceng  dan rasa sakitnya masih subhanallah.... luar biasa. "Ayo bu, pindah", begitu kata salah satu perawat ketika melihat saya tidak segera pindah saat di suruh pindah. "Sebentar, kenceng2. Sakit", jawab saya sambil meringis kesakitan. Kemudian saya dibantu untuk pindah.


Setelah pindah, saya didorong lagi, kali ini memasuki ruangan operasi. Begitu memasuki ruangan ini, mendadak hati saya berdebar-debar tak karuan. Untuk kedua kalinya saya masuk ruang operasi untuk memperjuangkan kelahiran makhluk kecil dalam rahim saya. 

Saya menggigil kedinginan dan ketakutan meskipun sudah berusaha untuk tetap tenang. Oh, iya di ruang operasi saya bukan satu-satunya wanita karena dokter Spog nya wanita yaitu Dr. Neni, dan ada satu bidan dari puskesmas yang ikut masuk untuk melihat proses operasi caesar. Kedepannya mungkin di puskesmas bisa melakukan tindakan caesar, kali ya. 

Lagi-lagi, saya disuruh pindah dari ranjang ke meja operasi. Masih dengan susah payah saya pindah. "Kenapa bu?" tanya salah satu perawat yang (mungkin) melihat saya meringis kesakitan. "Kenceng-kenceng, sakit", jawab saya lagi. Sayapun di bantu untuk pindah ke meja operasi.

Segala persiapan dilakukan, do'a tak henti-henti saya rapalkan untuk mengurangi ketegangan. Tapi tetap saja saya tegang. "Di suntik dulu ya bu? Sebentar lagi sakitnya hilang", kata seseorang yang kemudian menyuruh saya miring sambil pegang lutut. Kenceng banget saya pegang lutut biar tidak kaget saat jarum suntik menyentuh kulit saya. 

Begitu jarum menyentuh kulit saya, ternyata saya tidak kaget seperti waktu caesar dulu. Sakit sekali. "Sebentar tinggal masukkan obat bu", begitu kata seseorang lagi. Rasa sakitpun semakin menjadi seiring dengan masuknya obat. Hawa dingin menjalar ke tubuh saya bagian bawah yang kemudian membuat tubuh bagian bawah saya mati rasa. 

Tangan saya mulai direntangkan dan ditali. Tangan kanan dipasang tensi darah, tangan kiri inpus dan tiraipun di bentangkan di atas dada saya. Saya tidak bisa melihat lagi apa yang dilakukan orang-orang di depan saya. 

Musik mulai diputar dan lampu operasi mulai dinyalakan, pertanda operasi akan segera dimulai. Dokter melakukan tes, apakah obat bius sudah bekerja dengan baik. "Sakit bu?", tanya dokter. Setelah saya menjawab tidak, Dr. Neni, Spog, membacakan nama, umur, dan riwayat kesehatan saya secara singkat dilanjut membaca do'a agar operasi berjalan lancar.

Begitu operasi dimulai, tak sengaja mata saya menatap lampu operasi. Dan di lampu tersebut, samar-samar saya melihat perut saya terbuka penuh darah. Mendadak saya mual, mau muntah tapi tidak bisa. Saya segera memejamkan mata, tidak berani melihat lagi. Do'a masih terus saya panjatkan, sampai saya terlelap tak ingat apa-apa.

Tiba-tiba saya terbangun, nafas saya sesak sekali. Mulut saya kering, saya ingin menelan ludah tapi tidak bisa. Saya kesulitan untuk mengucapkan sepatah katapun. Dengan susah payah saya menyebut nama Allah berkali-kali. "Kenapa bu, kenapa bu?", tanya seseorang dengan panik. "Sesak", begitu jawab saya. Perawat di sebelah kiri saya menyuntikkan sesuatu ke inpus saya. Dan setelah itu saya tertidur lagi.

Tak berapa lama, saya sadar kembali. Sayup-sayup saya mendengar percakapan orang-orang di ruang operasi salah satunya,"Ini lho lengket, pantesan bayinya tidak mau turun, cuma pembukaan satu aja". Saya tidak mengerti apa maksudnya lengket, bayinya? Atau apanya?. Sayangnya, setelah operasi saya tidak bertemu lagi dengan Dr. Neni sehingga saya tidak sempat menanyakan apa maksudnya lengket itu.

Beberapa kali saya sadar dan tertidur lagi sampai saya tidak tahu kapan bayi saya lahir. Beda sekali dengan caesar pertama yang tetap sadar selama operasi berjalan. Saya mengira itu efek tidak tidur semalaman gara-gara merasakan sakitnya kontraksi. Tapi kata tetangga yang bekerja di Rumah Sakit tersebut, saya dibius lokal tapi ditidurkan. Jadi selama operasi berjalan saya tertidur lelap dan sesekali terbangun begitu sampai operasi selesai.

Setelah operasi selesai, sekitar jam 10.30 (kalau tidak salah lihat), saya dibawa ke ruang isolasi. Di ruangan ini, saya menunggu sampai biusnya hilang sama sekali. "Kakinya sudah bisa digerakkan bu?", tanya salah satu perawat perempuan. "Sudah", jawab saya. Kemudian saya dibawa ke ruangan lain lagi, menunggu jemputan dari ruang observasi. Lama sekali saya menunggu, dan selama menunggu saya tidak diijinkan bertemu dengan keluarga. Sementara keluarga saya diluar menunggu dengan gelisah.

Sekitar jam 1 siang, perawat dari ruang observasi datang menjemput saya. Lagi-lagi saya harus pindah ranjang, tapi pindahnya di angkat sama spreinya itu. Nah, karena obat biusnya sudah hilang, begitu diangkat dan diletakkan, luka operasi rasanya aduhai banget. Mungkin saya terlalu berat, makanya naruhnya kayak dilempar aja. :).

Keluar dari ruang isolasi, saya melihat emak, Pak Lik, dan Kakak ipar. Sedangkan Alfi dan suami tidak ada, mereka pulang bawa ari-ari. Ternyata di ruang observasi ini saya belum diperbolehkan ditunggu keluarga. Mereka hanya melihat saya dari kaca pintu masuk. Sedangkan saya, merasakan sakit dan haus yang luar biasa karena puasa sejak jam 3 dini hari. Sampai maghrib tiba, saya belum bisa kentut sehingga saya hanya diperbolehkan minum dan makan pisang saja.

Habis Mahgrib, seorang perawat yang melihat saya dan suami ngobrol pakai bahasa isyarat kok ya baik banget mengijinkan suami masuk. "Boleh masuk kok pak, jangan lama-lama, satu-satu orang saja", begitu katanya. Ya sudah suami masuk, "Adek hidungnya mancung", katanya. Sayapun exited menanyakan keadaan bayi kami. 
Waktu umur sehari, Bayi ini kami beri nama Muhammad Subhan Pradipta (Dipta)
Ternyata bayi kami sudah keracunan air ketuban karena sudah keruh. Waktu lahir tidak bisa nangis, sehingga beberapa tindakan harus dilakukan. Inilah salah satu resiko bila melahirkan lewat HPL. Tapi Alhamdulillah bayi kami selamat. Ach, kalau saja saya tidak egois ingin disebut ibu sempurna dengan melahirkan normal, mungkin hal ini tidak akan terjadi. Iya, apapun proses melahirkannya, semua ibu tetaplah yang terhebat untuk anak-anaknya.
Keterangan di buku KIA, yang baru saya tahu setelah pulang dari RS.

Malam itu, saya sendirian di ruang observasi, suami di luar entah bagaimana tidurnya. Beberapa kali perawat muda menyuntikkan obat ke inpus saya dan cek tensi serta menanyakan keluhan saya. Tensi dan suhu tubuh saya malam itu naik turun, mungkin pengaruh puasa hampir 24 jam. Sekitar jam 4 pagi, saya bisa kentut. Kentut habis operasi itu bagaikan menemukan oase di padang pasir, bahagia sekali. :)

19 September 2017, Sekitar jam 5, perawat muda membantu saya bersih2 diri, mengganti gurita dan jarik. Belum pakai baju karena belum lepas carterter. Kemudian ahli gizi datang, menjelaskan apa saja yang boleh dan tidak boleh di makan. Karena sudah kentut, pagi itu saya boleh makan bubur. Siangnya dokter berkunjung dan menanyakan keluhan saya. "Nyeri", itulah yang saya rasakan. Ya iyalah namanya habis operasi. 

Sekitar jam 11 siang perawat melepas inpus dan carterter kemudian saya bisa pindah ke ruang inap. Begitu pindah kamar, keluarga boleh masuk. Kebetulan waktunya makan siang, jadi emak membantu saya untuk makan. Tapi tidak bisa berlama-lama karena begitu jam makan siang selesai, petugas kebersihan mulai bekerja sehingga pengunjung harus keluar. 

Malamnya, suami tanya kapan boleh menyusui. Perawatnya bilang asal ibunya sudah kuat boleh menyusui. Karena ruang bayi dan ruang inap jaraknya lumayan jauh. Tapi demi melihat bayi mungil saya, dengan rasa sakit yang tak ada apa-apanya dibanding kebahagiaan yang saya rasakan, sayapun pergi ke ruang bayi. 

Moment pertama bertemu jagoan kecil saya itu menyisakan rasa haru yang sampai saat ini masih terasa. Bagaimana tidak haru? Bayi yang tanpa melalui IMD (Inisiasi Menyusui Dini) ini dengan kuatnya menghisap ASI saya untuk pertama kalinya sampai dia terlelap. Setelah saya mengembalikan bayi kepada perawat, sayapun kembali ke ruangan.
Moment pertama menyusui
Sebenarnya malam hari keluarga boleh menemani, tapi karena cuma bawa tikar satu dan ada keponakan yang ikut menunggu, jadi suami tidur di luar menemani keponakan. Saya yang sendirian, mau tak mau harus kuat untuk bangun sendiri dan melakukan apa-apa sendiri. Beda banget dengan caesar pertama, yang baru bisa bangun sendiri setelah 1 minggu. :)

20 September 2017, keadaan saya semakin membaik meskipun masih sakit lukanya . Hari itu, setiap jam minum susu saya pergi ke ruang bayi untuk menyusui. Dan malamnya, bayi saya diperbolehkan untuk rawat gabung dengan saya. Awalnya kaget juga, bagaimana saya bisa merawat bayi saya? Sementara saya hanya sama suami saja. Ternyata saya bisa mengurus sendiri, sesekali dibantu suami yang kecapekan karena harus wira-wiri ngurus sawah, saya dan bapak mertua yang jatuh ditabrak orang waktu pulang dari sawah.
Malam pertama, rawat gabung
21 September 2017 bertepatan dengan tgl 1 suro, kami diperbolehkan pulang. Pagi-pagi saya sudah beres-beres semua barang. Setelah  bertemu dokter, kemudian rawat luka, dan mengurus administrasi kami diperbolehkan pulang. Kebetulan saya tidak pakai BPJS jadi ngurus administrasinya cepat.

Ada Alfi, Emak, Pak Lik, dan keluarga kakak ipar yang menjemput. Alfi senang sekali punya adek.  Tadinya dia tidak suka karena adeknya cowok, tapi mendadak jadi galak ketika digodain adeknya mau di minta Pak Puhnya. "Tak boleh", katanya.

Jalanan hari itu lumayan ramai karena bertepatan dengan Karnaval dan acara salah satu perguruan pencak silat di jalur yang kami lewati. Sekitar jam 11.30 alhamdulillah kami sampai rumah. Saya langsung istirahat, sedangkan Alfi nangis sesenggukan karena merasa saya tidak memperdulikannya dan semua perhatian tertuju kepada adeknya. "Mbak Alfi kenapa? Takut ndak disayang ibuk lagi?" tanya saya yang dijawab anggukan dan isakan. "Ya  disayang lah, adek disayang, mbak alfi juga disayang", jawab saya sambil memeluknya dan Alfipun makin kenceng nangisnya. Tumbuhlah menjadi anak Sholeh Sholehah ya nak, Kami sayang kalian, sama, tidak pilih-pilih, tidak lebih tidak kurang.