Memiliki riwayat caesar di kehamilan pertama, tapi nekad ingin melahirkan normal di kehamilan kedua, itulah yang saya lakukan 4 bulan lalu. Sehingga, ketika tanda-tanda melahirkan belum ada, padahal sudah lewat HPL (Hari Perkiraan Lahir) yaitu tgl 3 september 2017, saya memilih menunggu dan menunggu. 


Jujur, sebenarnya saya khawatir dengan keadaan janin. Tapi Saya ingin melahirkan normal Ya Allah.... Sehari, dua hari, saya masih tenang dan saya pergi periksa ke dokter tempat biasa saya periksa pada tgl 5 September 2017. "Ini bayinya kok belum masuk panggul ya Bu? Ini masih ada jarak antara janin dan jalan lahir. Ada kemungkinan karena pernah caesar, sehingga jalan lahir bukanya kurang maksimal", begitu kata dokter  sambil menunjukkan hasil USG. 


Mendengar penjelasan dokter, mendadak saya lemes. "Apakah masih ada kemungkinan saya bisa lahiran normal dok?", tanya saya masih berharap. "Kita tunggu saja 3 hari, kalau belum masuk juga kita lakukan tindakan. Karena kalau masih belum masuk panggul tidak berani bu. Ini saya masih beri kesempatan karena berat bayinya kurang dari 3 kilo. Kalau lebih, harus segera dilakukan tindakan, tidak perlu menunggu" begitu kata dokter.

Pulang dari dokter saya mulai panik, berbagai usaha saya lakukan lebih giat. Ngepel sambil jongkok, memperpanjang sujud saat sholat, jongkok setelah sholat, sampai sholat malampun saya lakukan setiap malam (sebelumnya semaunya). Saya bener-bener memohon sama Allah agar diijinkan untuk bisa melahirkan normal.

3 hari pun berlalu, tanda-tanda itu belum juga ada. Saya berusaha rileks tapi tetap saja saya khawatir. Saking khawatirnya, saya sering menangis tanpa sebab. Jujur saya takut, kalau terjadi apa-apa dengan bayi saya. Suami memberi support dan menyerahkan semua keputusan kepada saya. "Kalau memang takut terjadi apa-apa dengan bayi kita, ayo kita periksa. Tapi ya harus siap kalau disuruh caesar lagi", kata suami yang bikin saya nangis makin kenceng. 

HPL pun lewat 1 minggu, saya semakin pasrah dan mulai bisa rileks. "Baiklah, kita tunggu sampai tanda-tanda itu datang baru kita ke rumah sakit. Pokoknya pasrah aja. Kalau memang bayi ini rejeki kita pasti akan baik-baik saja", begitu kata saya untuk menyemangati diri sendiri.

Sementara orang-orang mulai kepo, "kapan lahiran?", "Lho, kok belum lahiran, katanya tgl 3?", "Eh masih belum lahir juga ya?" ada juga yang memberi semangat "sabar, bayi lebih tahu kapan waktunya dia lahir". Mendengar pertanyaan dan penyataan orang-orang, disinilah kepasrahan saya berasa di uji. Saya mulai risih, sampai-sampai saya enggan keluar rumah maupun pegang HP. Karena takut dengan pertanyaan-pertanyaan itu.

Sampai akhirnya, minggu 17 September 2017 sekitar jam 10an, mules-mules itu mulai datang. Saya tidak tahu apakah ini yang dinamakan kontraksi, tapi rasanya persis saat saya mau keguguran tahun 2011 lalu. Semakin lama, mulesnya semakin sering dan semakin sakit. Saya cerita ke emak, dan emakpun membenarkan kalau itu tanda-tanda mau melahirkan.

Akhirnya, sekitar jam 1 siang kami berangkat ke Rumah Sakit pemerintah di Madiun Kota. Saya sengaja memilih ke RS tersebut karena ada saudara yang diberi kesempatan melahirkan normal setelah caesar dan berhasil.

Begitu sampai di RS, suami segera melakukan registrasi dan saya langsung disuruh masuk ruang bersalin. Salah satu perawat meminta saya untuk ganti baju pasien. Setelah selesai ganti baju, perawat lain mulai memasang alat untuk rekam jantung bayi, cek tensi, sambil menanyakan banyak hal seperti kapan nama, anak ke berapa, kapan HPL dll.
gambar dari sini

Tak lama, ada perawat lagi yang cek bagian dalam. "Belum ada pembukaan bu", katanya sambil menanyakan apakah sudah ada lendir atau darah keluar. "Belum", jawab saya. Dan sayapun disuruh menunggu. 

Lumayan lama saya menunggu, dokternya datang untuk melakukan USG dan pemeriksaan lain. "Ini tidak ada tanda-tanda melahirkan lho, kenapa ibu baru ke RS sekarang?", kata dokter. "Nunggu kerasa dulu, saya ingin melahirkan normal, dok", jawab saya.

Dokternya gemes sama saya yang tidak segera ke RS padahal sudah lewat HPL 2 minggu. "Jangan-jangan sampai oktober kalau belum kerasa mau menunggu, ga mau ke RS ya bu?. Ibu ya ndak boleh gitu. Kasihan dedenya khan ga tahu apa-apa?", kata dokter dengan lembut meskipun sebenarnya marah. 

Sebenarnya dokter menyarankan untuk caesar saat itu juga. Tapi saya memohon sama dokternya untuk diberi kesempatan. "dicoba dulu lah dok", kata saya memelas."Ya sudah saya beri kesempatan sampai besok pagi, kalau belum lahir saya operasi ya", jawab dokter memberi harapan.

Malam itu, saya lalui dengan perjuangan yang sangat luar biasa. Rasa sakitnya semakin sering, dari setengah jam menjadi 15 menit dan puncaknya ketika jam 3 dini hari. Rasa sakitnya datang setiap 5 menit sekali dan bolak balik ke kamar mandi buang air kecil. Saya tidak bisa tidur dengan nyenyak, sehingga ketika ada pasien yang melahirkan di kamar sebelah saya mendengar dengan jelas. Saat bayi lahir dengan tangisnya yang melengking, sayapun ikut menangis kejer. Antara sakit dan sedih, kok mereka bisa melahirkan semudah itu. Sedangkan saya?? Ah ya sudah lah.

Malampun berlalu, "Sudah ada lendir keluar bu?", tanya perawat yang kemudian menyuruh saya mandi. Sementara saya mandi, suami diminta mengisi dan menandatangani surat pernyataan untuk melakukan tindakan caesar. Tapi suami tidak menulis apa-apa dan memilih menunggu saya mandi. "Disuruh caesar lagi", kata suami. Saya langsung lemes, setelah merasakan sakit yang luar biasa semalaman, akhirnya disuruh caesar juga. Sempat merasa perjuangan saya sia-sia, tapi tetap bersyukur karena diberi kesempatan merasakan sakitnya mau melahirkan. Karena waktu Alfi dulu tidak sempat merasakannya.


Sekitar jam 6, perawat melakukan persiapan untuk operasi seperti pasang infus, carterter, tes alergi dll. Sedangkan saya masih merasakan sakit yang semakin aduhai saja rasanya. Sementara jadwal operasi saya harus diundur dari jam 8 menjadi jam 9 karena ada pasien hamil diluar kandungan yang keadaannya lebih darurat. 

Sayapun harus menunggu dengan rasa sakit yang luar biasa tersebut. Seorang perawat muda yang melihat saya menangis sambil meringis, membantu saya mengurangi rasa sakit dengan membimbing saya untuk tarik napas lewat hidung, buang lewat mulut. Begitu terus, sampai akhirnya saya di dorong menuju ruang operasi. 

====Bersambung ke Resiko Melahirkan Lewat HPL====