Rasanya baru saja saya dan suami terlelap dalam mimpi, tiba-tiba HP suami berbunyi. "Ndak ada namanya, biarin aja nda usah diangkat", kata suami setelah melihat si penelpon bukan nomer yang dia kenal. "Angkat aja, siapa tahu penting", bujuk saya. Karena tidak mungkin orang telpon dini hari (ndak lihat jam berapa) kalau tidak penting. Suami langsung keluar kamar untuk mengangkat telpon, takut si Alfi terbangun.

Tak lama keluar, suami masuk lagi dan menjelaskan kalau bapak temannya yang telpon. Katanya minta tolong jemput seseorang yang motornya rusak di daerah Balerejo Madiun. Saya tidak sempat bertanya banyak karena suami buru-buru ganti baju dan berangkat. Sebenarnya masih ngantuk sich, tapi suami juga ga tega menolaknya. Bayangin aja ngeri, dini hari motor rusak di jalanan yang sepi. Kalau terjadi sesuatu yang tidak diinginkan bagaimana? Ach.... saya malah mikirin yang tidak-tidak waktu itu. *efek kebanyakan nonton berita kriminal*


Setelah suami pergi, saya tidur lagi dan tiba-tiba suami sudah pulang menjelang shubuh. Suami menjelaskan kalau yang motornya rusak itu sekampung sama suami. Ceritanya orang itu mau ke Surabaya, sengaja berangkat dini hari karena senin paginya harus masuk kerja. Pinginnya terhindar dari macet dan bisa istirahat sebentar sebelum kerja eh malah kena musibah. "Kasihan kalau ndak ditolong, coba kalau itu terjadi sama kita. Dan alhamdulillah to sepagi ini dapet duit segini", kata suami sambil memamerkan selembar uang ratusan ribu.

Beberapa bulan setelah kejadian itu, tetangga yang punya perusahaan beton minta tolong suami mengirim barang ke daerah mendak, Dagangan. Daerah ini jalannya lumayan naik turun dan sudah beberapa kali suami kirim barang kesana. Perjalanan sebelumnya, lancar jaya tidak ada kendala apa-apa. 

Namun hari itu, entah muatan yang terlalu berat atau memang nasib lagi kurang beruntung. Pada saat melewati tanjakan yang tinggi, tiba-tiba radiatornya nyeplos dan mesinnya langsung mati. Spontan mobil mundur tak terkendali. Suami segera menginjak rem dengan sekuat tenaga tapi tetap saja mobil tidak mau berhenti karena tanjakan yang terlalu tinggi. 

Semua panik, Suami teriak-teriak menyuruh kuli yang dibelakang untuk loncat turun, mencari sesuatu untuk menghentikan mobil. Waktu itu suami sudah mikir yang tidak-tidak, bagaimana kalau dibelakang ada pengendara lain terus tertabrak, bagaimana kalau kulinya tidak menemukan sesuatu untuk menghentikan mobil, bagaimana kalau barang-barang yang nilainya berjuta-juta patah semua. Ach..... rasanya campur aduk dan hanya bisa pasrah menyebut nama Allah, berharap ada keajaiban sehingga mobil bisa dihentikan.

Setelah mencari-cari akhirnya kulinya berhasil menemukan batu dan segera mengganjal ban mobil. Alhamdulillah berhasil, mobilnya berhenti dengan selamat dan barang-barangnya aman. Semua lega, telah terhindar dari bahaya.

Suami segera  telpon bengkel langganan, tapi karena sudah sore dan tempatnya jauh sehingga disarankan untuk melepas radiatornya dan dibawa ke bengkel saja. Tapi yang jadi masalah bagaimana nasib barang yang harus diantar ke tempat pemesan? Kalau minta tolong sama orang rumah pasti bisa kemalaman, karena tempatnya jauh.

Disaat darurat seperti itu, suami ingat kalau ada teman yang punya mobil pick up tinggal di sekitar daerah itu dan kebetulan ada nomer telponnya. Suami segera menelpon dan alhamdulillah temannya itu bisa membantu mengantar barang pesanan. Kemudian mobil suami ditarik dititipkan di rumah warga kenalan temannya itu, jadi tenang meninggalkan mobil disana. Sedangkan suami, boss dan 2 kuli menunggu jemputan dari rumah. Mereka sampai rumah menjelang isya dengan wajah lelah, letih, lesu.

"Ndak tahu nanti biaya servisnya habis berapa" kata suami setengah mengeluh. "Sudah, ndak usah dipikirin yang penting orangnya selamat semua", kata saya menghibur. Dan yang harus disyukuri,  ada dewa penolong meskipun musibah terjadi  saat berada jauh dari rumah.

Dari kejadian itu, kami bisa mengambil hikmahnya. Bahwa setiap kebaikan yang kita lakukan akan mendapat balasannya. Mungkin orang yang kita tolong tidak bisa menolong kita,  tapi Allah akan membalas kebaikan kita melalui tangan orang lain. Yang penting ikhlas, insha Allah sekecil apapun kebaikan yang kita lakukan, Allah akan membalasnya.

Tulisan ini diikutsertakan pada Monilando's GiveAway : Spread The Good Story